Cara Jitu Agar Kakak Akur Bermain dengan Adik

Punya banyak anak itu memang menyenangkan, apalagi jika mereka semua bisa akur. Namun apa jadinya jika anak-anak tidak akur dan fight setiap hari? Bahkan masalah-masalah kecil bisa membuat mereka berkelahi satu sama lain. Faktor kepentingan pribadi, perbedaan usia, perbedaan keinginan, hingga perlakuan dari orangtua dapat menyebabkan anak kurang akur dengan saudaranya sendiri. Konflik antara kakak-adik tidak hanya berdampak pada sisi psikologis mereka, namun bisa juga berdampak kepada orangtua, dimana orangtua bisa jadi lebih sensitif, emosional (pemarah), kurang sabar, kasar, dan keras dalam mendidik. Jika anak-anak Anda di rumah sering bertengkar, berikut adalah beberapa cara-cara untuk membuat mereka menjadi lebih akur:

 

Berikan anak-anak kasih sayang dan perhatian yang sama besar

Seorang kakak seringkali cemburu kepada adiknya apabila orangtua tampak lebih memperhatikan adik dibandingkan dengan dirinya. Sifat cemburu tersebut seringkali tidak ditunjukkan anak kepada orangtua melainkan kepada adiknya dengan cara memusuhinya, malas mengajaknya bermain, atau selalu iri dalam berbagai kesempatan. Dalam kehidupan sehari-hari, fokuslah dengan memberikan rasa cinta dan kasih sayang yang sama besar kepada anak-anak. Contohnya, jangan suka menyalahkan salah satu anak. Atau jangan meminta salah satu anak untuk mengalah hanya karena usianya yang lebih dewasa atau karena jenis kelaminnya berbeda.

 

Berikan mereka mainan yang sama, atau mainan yang mereka sukai

Salah satu biang keladi mengapa anak-anak sering bertengkar dengan saudaranya sendiri adalah karena mereka memperebutkan suatu mainan. Membelikan mereka mainan yang sama akan membantu meminimalisir kemungkinan anak-anak bertengkar karena iri satu sama lain. Namun tidak selalu begitu, kadang-kadang ada anak yang menyukai jenis mainan tertentu yang benar-benar berbeda dengan saudaranya. Untuk itu, ayah-ibu harus bijak dalam memilih dan membelikan mainan untuk anak.

 

Melibatkan anak-anak langsung dalam memilih dan membeli mainan akan membuat mereka tidak iri terhadap milik saudaranya. Begitu juga pada saat membeli, sebisa mungkin ajak kedua anak dan tidak hanya salah satu anak saja. Karena mungkin saja anak pertama merasa iri sebab anak kedua dibelikan mainan yang terlihat lebih bagus dibandingkan dengan miliknya di kemudian hari.

 

Libatkan kedua anak dalam berbagai permainan dan kegiatan

Semakin sering Anda melibatkan anak-anak dalam berbagai kegiatan dan permainan, maka di dalam diri mereka akan tumbuh sikap saling memiliki dan menyayangi. Sebaliknya jika Anda hanya sering melibatkan salah satu anak saja, hal tersebut akan berdampak negatif pada hubungan sosial di dalam keluarga. Salah satu anak akan merasa lebih diperhatikan, sebaliknya anak yang lain akan merasa diabaikan. Walaupun kontribusi yang mereka berikan tidak seimbang, namun memberikan perhatian dan kesempatan yang sama kepada mereka akan membuat mereka merasa sama-sama dihargai. Contohnya, ketika bermain bola, ajak kedua anak tanpa membedakan jenis kelamin atau usia.

 

Hindari memuji salah satu anak, atau mencela anak yang lain

Apabila salah satu anak berhasil menyelesaikan pekerjaannya atau memiliki nilai yang bagus di kelas, atau kebetulan melakukan sesuatu yang benar. Sebaliknya, anak yang lain kebetulan mendapat nilai yang buruk atau melakukan kesalahan. Sebagai orangtua, hindari mencela kegagalan anak dihadapan keberhasilan saudaranya, karena hal tersebut akan memunculkan sikap antipati yang dapat merusak hubungan persaudaraan.

 

Hindari juga membanding-bandingkan anak dengan saudaranya sendiri karena hal tersebut dapat menyebabkan anak kehilangan rasa percaya diri, menyebabkan anak tumbuh rendah diri, atau bahkan menjadi introvert.

 

Dengarkan dan perhatikan keluhkan anak

Kebiasaan orangtua mendahulukan salah satu anak seringkali juga membuat anak yang lainnya menjadi iri. Misalnya, apabila anak berkata, “Kakak terus yang disisirin duluan, aku juga dong ma…” Ungkapan-ungkapan seperti ini merupakan bentuk perasaan anak yang harus ditangkap dan dipahami oleh orangtua sebagai teguran agar tidak selalu terlihat “menganakemaskan” salah satu anak.

 

Jangan biarkan anak memandang negatif saudaranya sendiri

Apabila salah satu anak bercerita negatif tentang saudaranya sendiri, sebisa mungkin orangtua harus bersikap bijak dalam menyikapinya. Salah satu bentuk kebijaksanaan tersebut adalah dengan menasehati anak bawah, ‘seburuk apapun saudaranya, dia tetap bagian dari keluarga dan harus dibantu agar berubah postif.’

 

Berikan mereka privasi

Ada banyak bentuk privasi yang biasa melerai anak atau mengurangi kecenderungan anak untuk bertengkar. Misalnya, berikan mereka kamar yang terpisah. Namun jika hanya ada satu kamar untuk 2 anak, berikan mereka ranjang yang terpisah. Termasuk tempat meletakkan mainan yang berbeda. Karena sering kali, hal-hal sepele seperti ini, dapat menyebabkan anak-anak merasa sebal dan tidak suka satu sama lain. Untuk itu, buatkanlah bentuk-bentuk privasi agar kakak dan adik bisa mengetahui batasan-batasan serta membedakan mana yang menjadi miliknya atau milik saudaranya.

 

Jika anak-anak punya jenis mainan yang sama, sebisa mungkin belikan mereka 2 tempat menyimpan mainan seperti play & pack yang berfungsi untuk memisahkan mainan-mainan mereka. Jadi, apabila salah satu mainan rusak, mereka tahu itu milik siapa. Sehingga anak yang lain tidak akan berusaha untuk merebut mainan saudaranya yang masih bagus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *